ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN

BAB 1

PENDAHULUAN

 

 

1.1              Latar Belakang

Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama bagi wanita. Peningkatan peluasan pelayanan  keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan  kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami oleh wanita. Banyak wanita harus menentukan pilihan kontrasepsi yang sulit, tidak hanya karena terbatasnya jumlah metode kontrasepsi yang tersedia tetapi juga karena metode-metode tentu mungkin tidak dapat diterima.

Pelayanan keluarga berencana yang merupakan salah satu didalam  paket pelayanan  kesehatan  reproduksi esensial perlu mendapat perhatian yang serius, karena dengan mutu pelayanan keluarga berencana berkualitas, diharapkan akan dapat meningkatkan tingkat kesehatan dan kesejahteraan. Dengan telah berubahnya paradigma dalam pengelolaan masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan  fertilitas menjadi  pendekatan yang berfokus pada kesehatan reproduksi serta hak reproduksi . Maka  pelayanan pelayana keluarga berencana harus menjadi lebih berkualitas serta memperhatikan hak-hak dari klien/ masyarakat.

Berdasarkan hasil laporan Puskesmas sebamban 01, Sei Loban Kabupaten Tanah Bumbu tahun 2012 dengan Pasangan Usia Subur (PUS) berjumlah 1859 orang, dan terdapat jumlah akseptor baru 189 orang, yang terdiri dari peserta KB suntik progestin (3 bulan) berjumlah 182 orang (33,86%), peserta KB suntik kombinasi (1 bulan) berjumlah 180 orang (45,87%), peserta KB pil berjumlah 51 orang (26,89%), peserta KB implant 3 orang (2,63%), peserta KB MOP tidak ada (0%), peserta KB MOW tidak ada (0%), peserta KB kondom berjumlah 5 orang (2,75%), dan AKDR tidak ada (0%). Dari semua kunjungan akseptor, KB suntik 3 bulan sangat banyak dipilih pada 2 bulan terakhir ini.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka penulis tertarik membuat Asuhan Kebidanan pada Ny. “S” usia 27 tahun Akseptor KB suntik 3 bulan.

 

1.2       Tujuan :

1.2.1        Tujuan Umum

Agar mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan secara komprohensif pada akseptor 3 KB suntik bulan dengan menggunakan manajemen kebidanan.

1.2.2        Tujuan Khusus

  1. Dapat melakukan pengkajian  pada akseptor 3 KB suntik bulan
  2. Dapat menetapkan diagnosa dan masalah dari hasil pengkajian
  3. Dapat menetapkan tindakan segera dan menetapkan diagnosa potensial
  4. Dapat merencanakan asuhan kebidanan akseptor 3 KB suntik bulan
  5. Dapat melaksanakan asuhan kebidanan yang telah disusun
  6. Dapat mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah dilakukan

 

1.3              Metode Pengumpulan Data

  1. Anamnesa

Semua bahan yang digunakan dalam pembahasan disini diambil berdasarkan tanya jawab.

  1. Pengamatan

Semua bahan yang dalam pembahasan disini telah dilakukan pengamatan secara langsung.

  1. Studi Kasus

Semua bahan dalam pembahasan disini berdasarkan kasus yang benar-benar ada dan benar-benar terjadi.

  1. Studi Pustaka

Semua bahan yang digunakan dalam pembahasan ini diambil dari beberapa referensi/buku yang berhubungan dengan kasus dalam masalah ini

1.4              SISTEMATIKA PENULISAN

BAB 1    :  PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang

1.2        Tujuan

1.3        Metode Pengumpulan Data

1.4        Sistematika Penulisan

BAB 2    :  TINJAUAN PUSTAKA

2.1        Konsep Dasar Kehamilan

2.2        Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Akseptor KB Suntik 3 bulan

BAB 3    :  TINJAUAN KASUS

3.1        Pengkajian Data

3.2        Inter Prestasi Data

3.3        Diagnosa / Masalah Potensial

3.4        Kebutuhan Segara

3.5        Intervensi

3.6        Implementasi

3.7        Evaluasi

BAB 4    :  PEMBAHASAN

BAB 5    :  PENUTUP

                                                            5.1    Kesimpulan

                                                            5.2    Saran

                                                             

DAFTAR PUSTAKA

 

 

BAB 2

TINJAUAN TEORI

 

 

2.1       KONSEP KELUARGA BERENCANA

Keluarga Berencana adalah suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah jarak kehamilan dengan memakai Kontrasepsi.

( Mochtar, 1998: 255 )

Kontrasepsi atau antikonsepsi (conception control) adalah cara untuk mencegah terjadinya konsepsi.

( Mochtar, 1998 : 256 )

KB Suntik Kombinasi adalah 25 mg depo medroksiprogesteron asetat dan 5 mg estradiol sipionat yang diberikan injeksi IM (Intra Muskuler) sebulan sekali (Cyclofem) dan 50 mg Noretindon enantat dan 5 mg estradiol valerat yang diberikan injeksi IM sebulan sekali.

( Sarwono Prawirohardjo, Pelayanan Kontrasepsi : 11 – 46 )

 

2.2              MACAM – MACAM KONTRASEPSI HORMONAL

2.2.1        Pil Kombinasi (hormone estrogen dan progestin)

Dapat dipakai oleh semua ibu usia reproduksi, baik yang sudah mempunyai anak maupun belum.

  • Ø Jenis

–       Monofasik    :    pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen / progesterone (E/P) dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormone aktif.

–       Bifasik          : pil yang tersedia didalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/ progestin (E/P) dengan dua dosis yang berbeda dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.

–       Trifasik         : pil yang tersedia di dalam kemasan 21 tablet mengandung hormone aktif estrogen/ progestin (E/P) dengan tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormone aktif.

  • Ø Cara Kerja

–       Menekan ovulasi.

–       Mencegah implantasi.

–       Lendir servik mengental sehingga sulit di lalui oleh sperma.

–       Pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi telur dengan sendirinya akan terganggu pula.

  • Ø Keuntungan

–       Memiliki efektifitas yang tinggi.

–       Risiko terhadap kesehatan sangat kecil.

–       Pil Tidak mengganggu hubungan seksual.

–       Siklus haid menjadi teratur, banyaknya darah berkurang. (mencegah anemia), dan tidak terjadi nyeri haid.

–       Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan. masih ingin menggunakannya untuk mencegah kehamilan.

–       Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause

–       Mudah dihentikan setiap saat.

–       Kesuburan segera kembali setelah penggunaan pil dihentikan.

–       Dapat digunakan sebagai KB darurat.

–       Membantu mencegah :

  • Kehamilan ektopik.
  • Kanker ovarium.
  • Kanker endometrium.
  • Kista ovarium.
  • Penyakit radang panggul.
  • Kelainan jinak pada payudara.
  • Ø Efek Samping

–       Mahal dan membosankan karena harus menggunakan setiap hari.

–       Mual terutama 3 bulan pertama.

–       Perdarahan bercak (spotting) atau perdarahan sela terutama 3 bulan pertama.

–       Pusing.

–       Nyeri payudara.

–       Berat badan naik sedikit.

–       Berhenti haid (amenorea), jarang pada pil kombinasi.

–       Tidak boleh diberikan pada ibu menyusui.

–       Dapat meningkatkan tekanan darah dan retensi cairan.

–       Tidak mencegah IMS, HIV/ AIDS

 

2.2.2    Pil Progestin

  • Ø Jenis mini pil

–       Kemasan dengan isi 35 pil : 300 µg Levonorgestrel atau 350 µg noretindon.

–       Kemasan dengan isi 28 pil : 75 µg  desogestrel.

  • Ø Cara Kerja

–       Menekan sekresi gondotropin dan sentesis steroid seks di ovarium (tidak begitu kuat).

–       Endometrium mengalami transformasi lebih awal sehingga implantasi lebih sulit.

–       Mengentalkan lendir servik sehingga menghambat penitrasi sperma.

–       Mengubah motalitas tuba sehingga transportasi sperma terganggu.

  • Ø Keuntungan

–       Sangat efektif bila digunakan secara benar.

–       Tidak mengganggu hubungan seksual.

–       Tidak mempengaruhi ASI.

–       Kesuburan cepat kembali.

–       Nyaman dan mudah digunakan.

–       Sedikit efek samping.

–       Dapat dihentikan setiap saat.

–       Tidak mengandung estrogen.

  • Ø Keterbatasan

–       Hampir 30-60% mengalami gangguan haid (spotting).

–       Peningkatan atau penurunan berat badan.

–       Harus di gunakan setiap hari dan pada waktu yang sama.

–       Bila lupa satu pil saja, kegagalan menjadi lebih besar.

–       Payudara menjadi tegang, mual, pusing, dermatitis dan jerawat.

–       Resiko kehamilan ektopik cukup tinggi (4 dari 100 kehamilan), tetapi resiko ini  lebih rendah jika dibandingkan dengan perempuan yang tidak menggunakan minipil.

–       Efektivitasnya menjadi rendah bila digunakan bersamaan dengan obat tuberkolosis atau obat epilepsy.

–       Tidak melindungi diri dari infeksi menular seksual  atau HIV/AIDS.

–       Hirsutisme (tubuh rambut/ bulu berlebihan didaerah muka), tetapi sangat jarang terjadi.

 

2.2.3    Suntik kombinasi

Jenis suntikan kombinasi adalah 25 mg depo medroksiprogesteron asetat dan 5 mg estradiol sipionat yang diberikan injeksi IM (Intra Muskuler) sebulan sekali (Cyclofem) dan 50 mg Noretindon enantat dan 5 mg estradiol valerat yang diberikan injeksi IM sebulan sekali.

  • Ø Cara Kerja

–       Menekan ovulasi.

–       Membuat lender servik menjadi kental sehingga penitrasi sperma terganggu.

–       Perubahan pada endometrium (atrofi) sehingga implantasi terganggu.

–       Menghambat transportasi gamet terganggu.

  • Ø Efektivitas

Sangat efektif (0,1 – 0,4 kehamilan per 100 perempuan) selama tahun pertama penggunaan.

  • Ø Keuntungan Kontrasepsi

–       Resiko terhadap kesehatan kecil.

–       Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri.

–       Tidak diperlukan pemeriksaan dalam.

–       Efek samping sangat kecil.

–       Jangka panjang.

–       Klien tidak perlu menyimpan obat suntik.

  • Ø Keuntungan Nonkontrasepsi.

–       Mengurangi jumlah pendarahan.

–       Mengurangi nyeri saat haid.

–       Mencegah anemia.

–       Khasiat pencegahan terhadap kanker ovarium dan kanker endometrium.

–       Mengurangi penyakit payudara jinak dan kista ovarium.

–       Mencegah kehamilan ektopik.

–       Melindungi klien dari jenis-jenis tertentu penyakit radang  panggul.

–       Pada keadaan tertentu dapat diberikan pada perempuan usia perimenopouse.

  • Ø Kerugian / Efek samping

–       Terjadi perubahan pola haid, seperti tidak teratur, perdarahan bercak/ spotting, atau perdarahan sela sampai sepuluh hari.

–       Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan dan keluhan seperti ini akan hilang setelah suntikan kedua atau ketiga.

–       Ketergantungan klien terhadap pelayanan kesehatan.

–       Efektifitasnya berkurang bila digunakan bersamaan dengan obat-obatan epilepsi ( fenitoin dan barbiturat) atau obat tubercolosis ( rifampisin).

–       Dapat terjadi perubahan berat badan.

–       Dapat terjadi efek samping yang serius seperti serangan jantung, stroke, bekuan darah pada paru atau otak, dan kemungkinannya timbulnya tumor hati.

–       Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual, hepatitis B virus, atau infeksi virus HIV.

–       Kemungkinannya terlambat pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian.

 

2.2.4    Suntik Progestin

  1. Jenis

–       Depo Medroksiprogesteron Asetat (Depoprovera), mengandung 150 mg DMPA, yang diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik intramuscular.

–       Depo Noretisteron Enatat (Depo Noristerat), yang mengandung  200 mg Noretindron enatat, diberikan setiap 2 bulan dengan cara disuntik intramuscular.

  1. Cara Kerja

–       Mencegah ovulasi.

–       Mengentalkan lendir servik sehingga menurunkan kemampuan penitrasi sperma.

–       Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi.

–       Menghambat transportasi gamet oleh tuba.

  1. Keuntungan

–       Sangat efektif.

–       Pencegahan kehamilan jangka panjang.

–       Tidak berpengaruh terhadap hubungan suami istri.

–       Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI.

–       Dapat digunakan perempuan usia >35 tahun sampai menopause.

–       Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik.

–       Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara.

–       Mencegah beberapa penyakit radang panggul.

–       Menurunkan krisis anemia bulan sabit (sickle cell).

  1. Efektifitas

                    Memiliki efektifitas yang tinggi, dengan 0,3 kehamilan per 100 perempuan/ tahun, asal penyuntikannya dilakukan secara teratur sesuai jadwal yang telah ditentukan.

  1. Keterbatasannya

–       Sering ditemukan gangguan haid, seperti :

  • Siklus haid yang memendek atau memanjang
  • Perdarahan yang banyak atau sedikit
  • Perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting)
  • Tidak haid sama sekali

–       Klien sangat bergantung pada tempat sarana pelayanan kesehatan (harus kembali untuk suntik).

–       Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikutnya.

–       Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering.

–       Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual.

–       Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian.

–       Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi (jarang), sakit kepala, nervositas dam jerawat

  • Indikasi

–       Usia Reproduksi.

–       Telah memiliki anak, ataupun yang belum memiliki anak.

–       Ingin mendapatkan kontrasepsi dengan efektifitas yang tinggi.

–       Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai.

–       Pasca persalinan dan tidak menyusui.

–       Setelah abortus atau keguguran.

–       Telah banyak anak, tetapi belum menghendaki tubektomi

–       Perokok

–       Tekanan Darah > 180/110 mmHg, dengan masalah gangguan pembekuan darah/ anemia berat

–       Menggunakan obat epilepsy (fenitoin dan barbiturat) atau obat tuberculosis (rifampisin)

–       Tidak dapat memakai kontrasepsi yang mengandung estrogen

–       Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi

–       Anemia defisiensi besi

–       Mendekati usia menopause yang tidak mau atau tidak boleh menggunakan pil kontrasepsi kombinasi.

  • Kontra Indikasi

–       Hamil atau diduga hamil.

–       Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya.

–       Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid, terutama amenorea.

–       Menderita kanker payudara atau riwayat kanker payudara.

–       Diabetes Mellitus disertai kompilkasi.

  • Waktu  Mulai Menggunakan Suntik Progestin

–       Setiap saat selama siklus haid, asal ibu tersebut tidak hamil.

–       Mulai hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid.

–       Pada ibu yang tidak haid, injeksi pertama dapat diberikan setiap saat, asalkan saja ibu tersebut tidak hamil. Selama 7 hari setelah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual.

–       Ibu yang menggunakan kontrasepsi hormonal lain dan ingin mengganti dengan kontrasepsi suntikan. Bila ibu telah menggunakan kontrasepsi hormonal sebelumnya secara benar, dan ibu tersebut tidak hamil, suntikan pertama dapat segera diberikan. Tidak perlu menunggu sampai haid berikutnya dating.

–       Bila ibu sedang menggunakan jenis kontrasepsi jenis lain dan ingin menggantinya dengan jenis kontrasepsi suntikan yang lain lagi, kontrasepsi suntikan yang akan diberikan dimulai pada saat jadwal kontrasepsi suntikan yang sebelumnya.

–       Ibu yang menggunakan kontrasepsi non hormonal dan ingin menggantinya dengan kontrasepsi hormonal, suntikan pertama kontrasepsi hormonal yang akan diberikan dapat  segera diberikan, asal saja ibu tersebut tidak hamil dan pemberiannya tidak perlu menunggu haid berikutnya datang. Bila ibu disuntik setelah hari ke-7 haid, ibu tersebut selama 7 hari setelah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual.

–       Ibu ingin menggantikan AKDR dengan kontrasepsi hormonal. Suntikan pertama dapat diberikan pada hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid, atau dapat diberikan setiap saat hari ke-7 silus haid, asal saja yakin ibu tersebut tidak hamil.

–       Ibu tidak haid atau  ibu dengan perdarahan tidak teratur. Suntikan pertama dapat diberikan setiap saat, asal saja ibu tersebut tidak hamil, dan selama 7 hari setelah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual.

  • Cara penggunaan

–       Kontrasepsi suntikan DMPA diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik intramuscular dalam didaerah pantat. Apabila suntikan diberikan terlalu dangkal, penyerapan kontrasepsi suntikan akan lambat dan tidak bekerja segera dan efektif. Suntikan diberikan setiap 90 hari.

–       Bersihkan kulit yang akan disuntik dengan kapas alcohol yang dibasahi oleh etil/isopropyl alcohol 60-90%. Biarkan kulit kering sebelum disuntik setelah kulit kering baru disuntik.

–       Kocok dengan baik, dan hindarkan terjadinya gelembung-gelembung udara. Kontrasepsi suntik tidak perlu didinginkan. Bila terdapat endapan putih pada dasar ampul, upayakan menghilangkannya dengan menghangatkannya.

  • Intruksi bagi klien

        Klien harus kembali ketempat pelayanan kesehatan atau klinik untuk mendapatkan suntikan kembali setiap 12 minggu untuk DMPA

2.2.5        Kontrasepsi Implan

  1. Jenis

–       Norplant. Terdiri dari  6 batang silastik lembut berongga dengan panjang 2,4 cm, dengan diameter 2 mm, yang diisi dengan 36 mg levonorgestrel dan lama kerjanya 5 tahun.

–       Implanon. Terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kira-kira 40 mm, dan diameter 2 mm, yang diisi dengan 68 mg 3-keto-desogestrel dan lama kerja 3 tahun.

–       Jadena dan indoplan. Terdiri dari dua batang yang diisi dengan 75 mg levonorgestrel dengan lama kerja 3 tahun.

  1. Cara kerja

–       Lendir servik menjadi kental.

–       Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi.

–       Mengurangi transportasi sperma.

–       Menekan ovulasi.

  1. Keuntungan

–       Daya guna tinggi.

–       Perlindungan jangka panjang (sampai 5 tahun).

–       Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan.

–       Tidak memerlukan pemeriksaan dalam.

–       Bebas dari pengaruh estrogen.

–       Tidak mengganggu kegiatan senggama.

–       Tidak mengganggu ASI.

–       Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan.

–       Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kesuburan.

  1. Efek samping

–       Nyeri kepala.

–       Peningkatan/ penurunan berat badan.

–       Nyeri payudara.

–       Perasaan mual.

–       Pening/ pusing kepala.

–    Perubahan perasaan (mood) atau kegelisahan (nervousness)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.3              MACAM – MACAM KONTRASEPSI NON-HORMONAL

2.3.5        Tanpa alat/obat (cara sederhana)

  1. Metode Amenore Laktasi (MAL)

      MAL adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara ekslusif artinya hanya diberikan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman apapun lainnya.

  1. Pantang Berkala

      Yaitu senggama dihindari pada masa subur yaitu dekat dengan pertengahan siklus haid atau terdapat tanda-tanda adanya kesuburan yaitu keluarnya lendir encer dari liang vagina.

      Menghindari senggama pada saat masa subur (sekitar ovulasi) perkiraan masa subur = 14 hari sebelum haid + 2hari, sperma mampu bertahan paling lama 72 jam dalam saluran reproduksi wanita. Ovum dapat bertahan hidup selama 24 jam setelah ovulasi sehingga jika siklus haid tidak teratur maka harus hati-hati dalam perhitungan.

  1. Senggama terputus

      Senggama terputus adalah metode Keluarga Berencana tradisional, dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi.

 

2.3.2    Dengan alat =  penghalang/barier

  • Kondom

      Kondom adalah selaput karet yang dipasang pada penis selama hubungan seksual. Kondom terbuat dari karet sintesis tipis, berbentuk silendris, dengan muaranya berpinggir tebal. Bila digulung berbentuk rata atau mempunyai bentuk seperti puting susu. Kondom juga membantu mencegah penularan PMS, termasuk AIDS (Arif Mansjoer, 2001).

–          Cara Kerja

  • Kondom menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara mengemas sperma di ujung selubung karet yang dipasang pada penis sehingga sperma tersebut tidak tercurah ke dalam saluran reproduksi perempuan.
  • Mencegah penularan mikroorganisme (IMS termasuk HBV dan HIV/ AIDS) satu pasangan kepada pasangan yang lain (khusus kondom yang terbuat dari lateks dan vinil) (Abdul Bari Saifuddin, 2006).

 

–          Keuntungan

  • Efektif bila digunakan dengan benar.
  • Tidak mengganggu ASI.
  • Tidak mengganggu kesehatan klien.
  • Tidak mempunyai pengaruh sistemik.
  • Murah dan dapat dibeli secara umum (Saifuddin, 2006).

–          Efek Samping

  • Efektifitasnya tidak terlalu tinggi.
  • Cara penggunaanya sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi.
  • Agak mengganggu hubungan seksual (mengurangi sentuhan langsung) (Abdul Bari Saifuddin, 2006).
  • Diafragma

      Adalah kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari lateks (karet) yang di insersikan kedalam vagina sebelum berhubungan seksual dan menutupi serviks.

2.3.3    AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)

  • Jenis

–          AKDR CuT-380A

Kecil, kerangka dari plastic yang fleksibel, berbentuk huruf T diselubungi oleh kawat halus yang terbuat dari tembaga (Cu). Tersedia di Indonesia dan terdapat di mana-mana.

–          AKDR lain yang beredar di Indonesia Adalah NOVA T (Schering).

  • Cara kerja

–          Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii.

–          Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.

–          AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk ferilisasi.

–          Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.

  • Keuntungan

–          Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi

      Sangat efektif : 0,6 – 0,8 kehamilan/ 100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan).

–          AKDR dapat segera efektif setelah pemasangan.

–          Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT 380A).

–          Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat.

–          Meningkatkan kenyamanan seksual karena karena tidak perlu takut untuk hamil.

–          Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI.

–          Dapat di pasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila tidak terjadi infeksi).

–          Dapat digunakan sampai menopause.

–          Tidak ada interaksi dengan obat-obatan.

–          Membantu mencegah kehamilan ektopik.

  • Kerugian

–          Efek samping yang sering terjadi :

  • Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan).
  • Haid lebih lama dan banyak.
  • Perdarahan (spotting) antar menstruasi.
  • Saat haid lebih sakit.

–          Komplikasi lain :

  • Merasakan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan.
  • Perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang memungkinkan penyebab anemia.
  • Perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangannya benar).

–          Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS.

–          Tidak baik digunakan paa perempuan IMS atau perempuan yang sering berganti pasangan.

–          Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai AKDR. PRP dapat memicu Infertilitas.

 

2.3.4    Dengan obat

  • Spermisida

      Zat-zat kimia yang kerjanya melumpuhkan spermatozoa didalam vagina   sebelum spermatozoa bergerak kedalam traktus genetalia interna (Hanifa Hartanto, 2004).

  • Cara Kerja

      Menyebabkan sel membrane sperma terpecah, memperlambat pergerakan sperma dan menurunkan kemampuan pembuatan sel telur (Abdul Bari Saifuddin, 2006).

  • Keuntungan
    • Efektif seketika.
    • Tidak mengganggu produksi ASI.
    • Mudah digunakan.
    • Meningkatkan lubrikasi selama hubungan seksual.
    • Tidak mempunyai pengaruh sistemik

  (Saifuddin, 2006).

 

 

 

 

2.3.5    Kontrasepsi operatif/ Mantap

  1. Tubektomi

Adalah pengikatan atau pemotongan Tuba kiri dan akanan         pada wanita untuk mencegah transport ovum dari ovarium melalui tuba, dilakukan dengan cara operasi.

  1. Vasektomi

Adalah prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan melakukan oklusi vasa deferensia sehingga alur transfortasi sperma terhambat dari proses ferilisasi (penyatuan dengan ovum) tidak terjadi.

  1. Histerektomi

Merupakan tindakan bedah yang dilakukan dengan cara mengangkat rahim wanita, karena pada dasarnya banyak faktor yang mempengaruhi, seperti jumlah anak terlalu banyak, atau memang ada masalah terhadap rahim, atau memang ada keinginan sendiri ingin memutuskan tidak memilik anak lagi.

(Sarwono Prawirohardjo, Buku Panduan Praktis Pelayanan KB )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.4       KONSEP MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN

 

I.    PENGKAJIAN

A.  Data Subyektif

  1. Biodata

Nama Klien     :                                   Nama Suami    :

No. Register    :                                   Umur               :

Agama             :                                   Agama             :

Pendidikan      :                                   Pendidikan      :

Pekerjaan         :                                   Pekerjaan         :

Penghasilan     :                                   Penghasilan     :

Alamat                        :                                   Alamat                        :

( FK. UNPAD, 1983 : 153 )

 

  1. Alasan Datang

Ibu mengatakan ingin menggunakan KB Suntik

(Hanafi Hartanto, 2004)

3.   Keluhan Utama

Keluhan yang dirasakan pasien selama menggunakan alat kontrasepsi. Misalnya : mual, sakit kepala, perubahan pola haid, nyeri payudara ringan, dll

(Abdul Bari Saifuddin, 2006)

4.  Riwayat kesehatan yang lalu

–       Pernah/ tidak sakit parah/ dirawat di RS.

–       Pernah/ tidak menderita penyakit menular maupun manahun

(Hanafi Hartanto, 2004)

  1. Riwayat kesehatan sekarang

–       Sedang/ pernah / tidak menderita penyakit parah/ dirawat di RS.

–       Sekarang sedang/ tidak sakit menular, menurun maupun menahun

( FK UNPAD, 1983).

 

 

  1. Riwayat kesehatan keluarga

Dalam keluarga ada/ tidak yang menderita penyakit menurun, menular dan menahun maupun keturunan kembar

(Ambarwati, 2009)

  1. Riwayat Haid

Amenorea, menarche, siklus haid, dismenorea, HPHT, HPL

(Mochtar, 1998)

  1. Riwayat perkawinan

Berapa kali menikah, lama menikah, umur pertama kali menikah

 (Manuaba, 1998)

  1. Riwayat kehamilan,persalinan, dan nifas yang lalu

Ditanyakan kehamilan klien dalam keadaan sehat/ tidak, di dalam persalinan ada penyulit/ tidak, masa nifas ada gangguan / tidak.

(Manuaba, 1998)

  1. Riwayat KB

Kontrasepsi yang pernah di pakai, lamanya, dan selam penggunaan kontrasepsi apa pernah ada keluhan

 (Ambarwati, 2009).

  1. Pola kebiasaan sehari-hari

Untuk mengetahui pola nutrisi, eliminasi, istirahat, personal hygiene dan aktivitas klien

( DepKes RI, 2001)

  1. Pola psikososial dan Spritual

Untuk mengetahui apakah ibu mempunyai pantangan tertentu selama menggunakan KB

(Ambarwati, 2009)

B. DATA OBYEKTIF

  1. Pemeriksaan Umum

KU              : Baik.

Kesadaran   : Composmentis.

TD              : 110/70 – 130/90 mmHg.

N                 : 60 – 100x/ menit.

R                 : 16 – 24x / menit.

S                 :36,5 – 37,5◦ C

(FK UNPAD, 1983)

  1. Pemeriksaan Khusus
    1. Inspeksi

–          Rambut                   : hitam/ tidak, berketombe/ tidak.

–          Muka                      : pucat/ tidak.

–          Mata                       :  simetris/ tidak, sclera ikterik/ tidak, konjungtiva anemis/ tidak.

–          Hidung                        : bersih/ tidak, ada secret/ tidak.

–          Mulut                      :  kelembaban bibir/kering, terdapat stomatitis/tidak, gigi berlubang/tidak, lidah bersih/ tidak.

–          Leher                      :  Pembesaran kelenjar tyroid ada/ tidak pembesaran vena jugularis ada/ tidak.

–          Dada                           : pernafasan normal/ tdak.

–          Abdomen                : terdapat bekas luka operasi/ tidak.

(FK UNPAD, 1983)

  1. Palpasi

–          Leher                      : teraba/ tidak pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis

–          Abdomen                : ada penegangan pada uterus/ tidak

(Hanifa Winkjosastro, 2002)

II.  IDENTIFIKASI DATA DASAR

      DX            : Asuhan  kebidanan pada Ny….. Usia…. Tahun P……. Akseptor KB….

      DS : Ibu  mengatakan ingin menggunakan KB dan memberi  jarak pada kehamilan.

            DO      : Inspeksi : keadaan umum ibu.

                           Palpasi  : Lakukan TTV

(Hanafi Hartanto, 2004)

III. INTERVENSI

      DX            : Asuhan  kebidanan pada Ny….. Usia…. Tahun P……. Akseptor KB….

Tujuan       :

  1. Memberikan informasi mengenai alat kontrasepsi, efek samping beserta keuntungan menggunakan KB kepada ibu.
  2. Membantu ibu menentukan alat kontrasepsi yang cocok untuknya.
  3. Menjalin hubungan baik dengan ibu.

Kriteria Hasil :

–          Mendapatkan hasil yang baik (normal).

–          TTV.

Intervensi  :

  1. Jalin hubungan baik dengan pasien

      R : akan mempermudah melakukan asuhan kebidanan.

  1. Berikaan informasi mengenai alat kontrasepsi, efek samping, serta keuntungannya.

      R : agar ibu mengerti apa itu kontrasepsi dan mengerti efek samping serta keuntungannya.

  1. Membantu ibu menentukan alat kontrasepsi yang diinginkan ibu.

      R : agar ibu dapat menetukan pilihan yang mana tepat untuknya

( Abdul Bari Saifuddin, 2006).

IV. IMPLEMENTASI

                  Mengacu pada intervensi yang ada.

( Abdul Bari Saifuddin, 2006).

V.  EVALUASI

Yang akan di interpretasikan pada SOAP mengacu pada intervensi dan implementasi

(Abdul Bari Saifuddin, 2006).

              

 

 

                            

 

BAB 3

TINJAUAN KASUS

 

 

 

3.1        PENGKAJIAN

Hari / tanggal pengkajian           : Rabu, 18 Juli 2012

Jam pengkajian                           : 11.00 WITA

 

  1. Data Subjektif
    1. Biodata

Nama klien      :  Ny “S”            Nama suami      :  Tn “A”

Umur               :  27 tahun          Umur                :  27 tahun     

Agama             :  Islam               Agama              :  Islam

Suku/Bangsa   :  Jawa/Indo       Suku/Bangsa     :  Jawa/Indo

Pendidikan      :  SMP                Pendidikan       :  SMP

Pekerjaan         :  IRT                  Pekerjaan          :  Swasta

Penghasilan     :  –                       Penghasilan       :  Rp. 1.000.000/bln

Alamat            :  Desa Dwi Marga Utama, RT03 RW 01, Sebamban 03, Sei Loban, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.                

                    

  1. Keluhan Utama

–     Ibu mengatakan ingin suntik KB 3 bulan, sesuai jadwal.

  1. Riwayat Penyakit Sekarang

–     Saat ini ibu dalam keadaan sehat dan tidak menderita penyakit menular (TBC, Hepatitis, PMS), manahun (jantung, tekanan darah tinggi, dll) menurun ( DM, asma, dll )

4.   Riwayat Penyakit Yang Lalu

–     Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular (TBC, Hepatitis, PMS), manahun (jantung, tekanan darah tinggi), menurun ( DM, asma, dll ).

 

  1. Riwayat kesehatan keluarga

–       Ibu mengatakan dari pihak keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular (Hepatitis, TBC, PMS, dll) tidak ada riwayat penyakit keturunan (Hipertensi, DM, Asma, Dll) dan tidak ada penyakit menahun (jantung, asma,dll).

 

  1. Riwayat Haid

Menarche              :  13 tahun

Siklus                    :  28 hari

Lama                     :  5 hari

Banyaknya            :  + 2 – 3 x ganti pembalut / hari

Disminorea            :  Tidak pernah

Flour albus            :  tidak ada

  1. Riwayat Perkawinan

Menikah                         : 1 x

Lama menikah                : 3 tahun

Status pernikahan          : Menikah

  1. Riwayat kehamilan, Persalinan, Nifas yang lalu

No

Kehamilan

Persalinan

Bayi

Nifas

Komplikasi

ket

Ditolong

Tempat

Jk

bb

pb

1

Aterm

Bidan

Rumah

Lk

3000

50

Tidak ada

Hidup

 

  1. Riwayat KB

Sebelum kehamilan anak pertama, ibu belum pernah menggunakan kb, segera setelah kelahiran anak pertama, ibu memutuskan menggunakan kb suntik 3 bulan sampai sekarang.

  1. Keadaan Psikososial

Ibu mengatakan suami mendukung atas penggunaan kb suntik 3 bulan ini.

 

 

 

  1. Data Obyektif
    1. Pemeriksaan Umum

Keadaan Umum       :  Baik

Kesadaran                :  Composmentis

TD                            :  120/80 mmHg

RR                            :  20 x/m

N                              :  80 x/m

S                               :  37o C

TB                            :  155 cm

BB sekarang             :  47 kg

 

  1. Pemeriksaan khusus
  2. Inspeksi

–   Rambut        :  Rambut bersih, hitam, tidak rontok dan tidak berketombe

–   Mata             :  Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, penglihatan tidak kabur

–   Hidung         :  Bersih, tidak ada skret dan cairan, tidak ada polip

–   Telinga         :  Bersih, tidak ada serumen

–   Mulut           :  Bibir lembab, lidah bersih, tidak stomatitis, gigi tidak ada karies dan tidak berlubang

–   Leher            :  tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis

–   Dada            :  Gerak nafas teratur, payudara tampak pembesaran, dan tidak tampak ada benjolan abnormal.

–   Ekstremitas  :  atas : simetris, dan tidak odema

Bawah : simetris, tidak odema dan tidak ada verises

  1. Palpasi

–   Leher            :  tidak ada pembesaran kelenjar tyroid vena jugularis

–   Payudara      :  tidak ada benjolan abnormal.

–   Abdomen     :  tidak dilakukan

 

  1. Auskultasi

Tidak dilakukan

  1. Perkusi : Refleks patella (+) / (+)

 

3.2        Interpretasi Data Dasar

DX  :   Ny ”S” usia 27 tahun Akseptor KB suntk 3 bulan

DS  :    Ibu mengatakan ingin suntik KB 3 bulan, sesuai jadwal.

DO :    KU                  :  Baik

Kesadaran       :  Composmentis

TD                   :  120/ 80 mmHg

RR                   :  20 x/menit

Nadi                :  80 x / mrnit

Suhu                :  37OC

TB                   :  155 cm

BB                   :  47 kg

 

3.3        Identifikasi Diagnosa / Masalah Potensial

_

 

3.4        Kebutuhan Segera

_

 

3.5        Intervensi

DX                  :  Ny ”S” usia 27 tahun akseptor KB suntik 3 bulan

Tujuan             :  – Kehamilan dapat dicegah

–   Tidak terjadi efek samping

Kriteria hasil    :  Ku                :  Baik

                           Kesadaran    :  Composmentis

                           TD                :  110/70, 130/90

                           RR                :  16-24 X/menit

                           N                  :  60-100 X/menit

                           S                   :  36,5-37,5 °C

                      

Intervensi       :

  1. Lakukan pendekatan pada pasien

R/ => menjalin hubungan baik dan menciptakan kepercayaan klien terhadap bidan

  1. Jelaskan pada pasien hasil dari pemeriksaan

R/ =>   Agar pasien mengetahui keadaannya saat ini

  1. Pastikan pada pasien teap menggunakan KB suntik 3 bulan

R/ =>   Agar ibu tidak ragu dan lebih mantap dalam penggunaan KB suntik 3 bulan ini.

  1. Persiapan alat, obat dan pasien

R/ =>   Persiapan peralatan dan pasien dengan posisi yang nyaman akan memudahkan dalam proses penyuntikan.

  1. Lakukan tindakan penyuntikan secara IM

R/=>    Suntikan masuk dalam jaringan otot

  1. Lakukan observasi pasca penyuntikan dan lakukan pendokumentasian.

R/ =>   Untuk jaga-jaga jika terjadi efek samping pasca penyuntikan.

 

3.6        IMPLEMENTASI

Hari / tanggal pengkajian           : Rabu, 18 Juli 2012

Jam pengkajian                           : 11.30 WITA

Tempat                                       : Puskesmas Sebamban 01, Tanah Bumbu

 

Dx :     Ny ”S” usia 27 tahun akseptor KB suntik 3 bulan

Implementasi :

  1. Melakukan pendekatan kepada ibu dengan menciptakan hubungan terapeutik seperti menyapa dengan ramah, berkata sopan dan mudah dimengertui dan memanggil ibu sesuai nama panggilan ibu serta mendengarkan keluhan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan.
  2. Memberitahukan kepada ibu hasil dari pemeriksaan, yaitu

–         KU                  :  Baik

–         Kesadaran       :  Composmentis

        –  TD                :  120 / 80 mmHg

        –  RR                :  20 x/menit

        –  N                  :  80 x / menit

        –  S                   :  37o C

               Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan

  1. Memastikan pada pasien tetap menggunakan KB suntik 3 bulan, dengan menjelaskan keuntungan dari penggunaan KB suntik 3 bulan yaitu, tidak mempengaruhi produksi ASI, cocok untuk klien yang menginginkan kontrasepsi jangka menengah, cocok untuk klien yang pelupa,dll.
  2. Mempersiapkan peralatan, obat dan pasien
  • Peralatan

–       Spuit 3 cc

–       Nidlle

–       Kapas alcohol

–       Bengkok

  • Obat

–       Obat KB (Depo progestin)

  • Pasien

–       Anjurkan pasien untuk mengambil posisi yang nyaman, yaitu berbaring dalam posisi tengkurap.

5.     Melakukan tindakan, yaitu member suntikan KB depo progestin secara IM dalam dosis 3 cc, pada 1/3 bokong atas sebelah kiri/kanan.

6.     Lakukan observasi selama ± 10 menit pasca proses penyuntikan, untuk memastikan tidak terjadi efek samping pasca penyuntikan seperti hematom atau perdarahan. Kemudian dokumentasikan tindakan dalam berkas catatan serta pada Buku KB yang dibawa ibu       

 

 

 

 

 

 

3.7        Evaluasi

Hari / tanggal pengkajian    : Rabu, 18 Juli 2012

Jam pengkajian                   : 11.50 WITA

Tempat                                : Puskesmas Sebamban 01, Tanah Bumbu

 

Dx :     Ny. “S” usia 27 tahun akseptor KB suntik 3 bulan

S :        Ibu mengatakan sudah mengerti dengan semua penjelasan yang diberikan oleh petugas.

O :       – KU ibu baik

–   Ibu telah disuntik KB secara IM

–   Area penyuntikan tidak terjadi hematom dan tidak terjadi perdarahan.

A  :       Ny. “S” usia 27 tahun akseptor KB suntik 3 bulan

P  :       –  Anjurkan ibu untuk datang kembali pada tanggal 10 Oktober 2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

 

 

Pembahasan ini akan lebih memudahkan pembaca. Pada pembahasan ini sudah di kelompokkan sesuai langkah-langkah manjemen kebidanan. Yang meliputi :

 

  1. Pengkajian

Pada pengkajian terdapat pengkajian data secara subyektif dan obyektif. Dari kedua pengkajian tersebut tidak terdapat kesenjangan di karenakan klien sangat membantu dan mau di ajak berkomunikasi, mampu menjawab semua pertanyaan sehingga pada pengumpulan data secara subyektif yang di dapat dari pasien.dan pada pengkajian  data secara obyektif yang dilakukan melalui pemeriksaan oleh tenaga kesehatan juga tidak terdapat kesenjangan karena pasien sangat membantu dalam proses pemeriksaan.

2.   Interpretasi Data Dasar

Pada interpretasi data dasar, dari diagnose dan data dasar yang diperoleh tetap melalui DS dan DO “Asuhan Kebidanan Pada Ny “S” Usia 27 Tahun Akseptor KB Suntik 3 Bulan tidak mengalami kesenjangan, karena pemeriksaan dilakukan untuk menentukan tindakan selanjutnya.

3.   Diagnosa (Masalah Potensial)

Tidak terdapat masalah potensial yang timbul pada asuhan yang diberikan pada Asuhan Kebidanan Pada Ny “S” Usia 27 Tahun Akseptor  KB Suntik 3 Bulan.

4.   Identifikasi Kebutuhan Segera

Dikarenakan tidak terdapat masalah potensial pada langkah ke 3 pembuatan Asuhan Kebidanan Pada Ny “S” Usia 27 Tahun Akseptor  KB Suntik 3 Bulan jadi juga tidak diperlukan kebutuhan segera.

5.   Intervensi

Merencakan tindakan selanjutnya untuk memberikan pelayanan kepada pasien sesuai standar asuhan keluarga berencana. Tidak mengalami kesenjangan karena perencanaan dapat dibuat dengan mudah sesuai asuhan keluarga berencana.

 

 

6.   Implementasi

Pada pelaksaan intervensi yang telah dibuat menurut standart asuhan kebidanan pada keluarga berencana, tidak terdapat kesenjangan dikarenakan semua intervensi yang dibuat dapat dilakukan kepada pasien tanpa kesulitan.

7.   Evaluasi

Setelah mendapatkan penjelasan dari bidan. ibu mengerti dan merasa puas dengan saran yang diberikan oleh bidan dan pelayanan yg diberikan .

Menganjurkan ibu untuk datang kembali apabila ada keluhan, jadi pada evaluasi tidak terdapat kesenjangan karena ibu dapat mengerti dan merasa puas dengan asuhan yang diberikan.

Jadi dalam pembahasan yang sudah dijelaskan secara perkelompok dapat dikatakan tidak terdapat kesenjangan antra tinjauan teori dan tinjauan kasus yang dibuat, semua item-item yang terdapat pada tinjauan kasus Ny “S” Usia 27 Tahun Akseptor KB Suntik 3 Bulan dapat dilakukan sesuai standar keluarga berencana 7 langkah Varney.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

 

5.1       Kesimpulan

KB Suntik Kombinasi adalah 25 mg depo medroksiprogesteron asetat dan 5 mg estradiol sipionat yang diberikan injeksi IM (Intra Muskuler) sebulan sekali (Cyclofem) dan 50 mg Noretindon enantat dan 5 mg estradiol valerat yang diberikan injeksi IM sebulan sekali.

Pada dasarnya semua alat kontrasepsi bila digunakan sesuai anjuran yang ada, dapat menjadi alat kontrasepsi yang menghambat terjadinya kehamilan dan menurunkan angka kelahiran pada semua wanita yang menggunakan alat kontrasepsi. Namun apa yang telah dijelaskan di atas dapat juga terbalik, apabila dilakukan tidak sesuai anjurkan  atau dapat dikatakan akan meningkatkan terjadinya kehamilan dan kelahiran yang pada dasarnya ingin menghambat dan menekan terjadinya kehamilan, malah terbalik semakin banyak mempunyai anak.

Bila dirincikan lagi secara lebih luas. Dari teori dan kasus serta pembahasan yang telah dibuat dapat dikatakan banyak factor yang mempengaruhi mengapa wanita banyak mempunyai anak atau hamil karena factor kurangnya pengetahuan mengenai alat kontrasepsi, ketakutan terhadap budaya. Adat istiadat, serta ketidak mampuan wanita untuk mengambil keputusan sendiri. Hal  ini menjadi factor yang bersifat luas yang tidak mudah mendapat penyelesaian.

Oleh karena itu diperlukan peran serta tenaga kesehatan, untuk berperan serta membantu suatu keluarga agar menjadi keluarga yang sejahtera dengan cara melakukan penyuluhan secara berkesinambungan kepada ibu-ibu rumah tangga atau bapak-bapak untuk menggunakan KB. Agar jumlah kehamilan dapat di minimalkan secara optimal sehingga terbentuklah keluarga kecil bahagia sejahtera.

 

 

 

5.2       Saran

  • Penulis

Diharapkan kepada penulis agar kedepannya lebih teliti dan cermat dalam penulisan karya tulis agar tidak terjadi banyak kesalahan dalam penyusunannya.

  • Pembaca

Diharapkan bagi pembaca setelah membaca asuhan kebidanan ini, Pembaca dapat menambah wawasan mengenai Asuhan Kebidanan pada Aksptor KB Suntik 3 Bulan..

  • Institusi

Diharapkan bagi institusi supaya memperbanyak buku – buku tentang kesehatan, guna memperbanyak referensi dalam penulisan laporan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Hartanto, Hanafi. 1994. Kontrasepsi dan Keluarga Berancana. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

 

Hartanto, Hanafi. 2004. Kontrasepsi dan Keluarga Berancana. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

 

Http:// ayurai.wordpress.com/2009/03/30/askeb-akseptor-KB-suntik-cycloferm.

 

Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius.

 

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obtetri Operatif dan Sosial Jilid II. Jakarta : EGC.

 

Saifuddin, A.B. 2006. Buju Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

 

 

 

 

2 thoughts on “ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s