ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA AKSEPTOR KB KONDOM

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1       Latar Belakang

Keluarga Berencana adalah suatu tindakan yang dibantu individu / pasutri untuk mendapatkan objektif tertentu agar menghindari kehamilan / kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur interval, diantaranya kehamilan dan penentuan jumlah anak dalam keluarga sesuai dengan kemampuannya serta situasi masyarakat dan negara. Sedangkan KB Kondom merupakan alat kontrasepsi yang digunakan oleh pria. Untuk mencegah terjadinya kehamilan,sedangkan kondom adalah selubung / sarung karet yang dapat terbuat dari berbagai bahan diantaranya lateks / karet, plastik ( vinil ) atau bahan alami ( produksi hewani ) yang dipasang pada penis saat hubungan seksual, kondom terbuat dari karet sintesis yang tipis berbentuk silinder dengan muuaranya berpinggir tebal, yang bila digulung berbentuk rata atau mempunyai bentuk seperti putting susu.

Di zaman modern seperti ini, dapat dikatakan 40 – 75% wanita mengatakan, tidak mudah menemukan alat kontrasepsi yang cocok dan 70 – 80% wanita mengatakan mengapa bukan pria yang menggunakan KB (Alat Kontrasepsi) agar pria tahu bagaimana rasanya ber KB. Kurangnya pengetahuan para wanita dan pria sebagai pasangan pasutri, tentang Keluarga Berencana menyebabkan tingginya tingkat kelahiran dan kematian di Indonesia.

Berdasarkan survey demografi dan kesehatan Indonesia melalui Data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2008-2009 tingkat pengetahuan kontrasepsi terdiri dari suntik 46,1%, Pil 21,9%, IUD 10,3%, susuk (implant) 7,1%, Tubektomi 0,40%.

Dari beberapa hal diatas, dapat disimpulkan pengetahuan biaya dan ketidaktahuan mengenai macam alat kontrasepsi menyebabkan pasangan suami istri memiliki banyak anak, serta kurangnya partisipasi suami dalam perannya menggunakan KB menjadi salah satu alasan masih tingginya AKI dan AKB di Indonesia. Oleh karena itu saya berkeinginan, mengambil judul Asuhan Kebidanan pada Tn. “S” usia 27 tahun, Akseptor KB Kondom.

1.2       Tujuan

1.2.1    Tujuan Umum

Agar mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan secara komprohensif pada ibu hamil dengan menggunakan manajemen kebidanan.

1.2.2    Tujuan Khusus

  1. Dapat melakukan pengkajian  pada akseptor KB kondom
  2. Dapat menetapkan diagnosa dan masalah dari hasil pengkajian
  3. Dapat menetapkan tindakan segera dan menetapkan diagnosa potensial
  4. Dapat merencanakan asuhan kebidanan pada akseptor KB kondom
  5. Dapat melaksanakan asuhan kebidanan yang telah disusun
  6. Dapat mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah dilakukan

 

1.3       Metode Pengumpulan Data

  1. Anamnesa

Semua yang dilakukan dalam pembahasan diambil dalam tanya jawab dan pemeriksaan yang dilakukan.

  1. Pengamatan

Semua bahan yang dalam pembahasan telah dilakkan pengamatan secara langsung

  1. Studi Kasus

Semua bahan dalam studi kasus yang digunakan memang benar – benar terjadi

  1. Studi Pustaka

Semua bahan yang digunakan dalam pembahasan diambil dari beberapa referensi / buku yang berhubungan dengan kasus dalam makalah ini.

 

1.2              SISTEMATIKA PENULISAN

BAB 1    :  PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang

1.2        Tujuan

1.3        Metode Pengumpulan Data

1.4        Sistematika Penulisan

BAB 2    :  TINJAUAN PUSTAKA

2.1        Konsep Dasar Keluarga Berencana

2.2        Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Akseptor KB kondom

BAB 3    :  TINJAUAN KASUS

3.1        Pengkajian Data

3.2        Inter Prestasi Data

3.3        Diagnosa / Masalah Potensial

3.4        Kebutuhan Segara

3.5        Intervensi

3.6        Implementasi

3.7        Evaluasi

BAB 4    :  PEMBAHASAN

BAB 5    :  PENUTUP

                                                            5.1    Kesimpulan

                                                            5.2    Saran

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

2.1              Konsep Dasar Keluarga Berencana ( KB )

2.1.1        Definisi Keluarga Berencana

Keluarga Berencana adalah usaha untuk mencegah terjadinya kelahiran yang berlebihan, agar tercipta keluarga yang bahagia sejahtera menurut NKKBS.

                                                     ( Arif Mansjoer, 1998 )

Keluarga Berencana (KB) adalah upaya peningkatan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera.

                                                     ( Wiyono, 1997 )

Keluarga Berencana (Family planning, planned parenthood) adalah suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi dengan benar dan sesuai pemeriksaan kontrasepsi yang dipilih.

                                                     ( Rustam Mochtar, 1998 : 225 )

Keluarga Berencana (KB) adalah suatu tindakan yang membantu individu / pasutri untuk mendapatkan objektif. Objektif tertentu untuk menghindari kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan dan menentukan jumlah anak dalam keluarga sesuai dengan kemampuannya serta sesuai situasi masyarakat dan negara.

                                                     ( WHO, Expert Committee, 1970 )

 

2.1.2        Tujuan KB

  1. Tujuan Demografis

Tujuan Demografis yaitu dapat dikendalikan tingkat pertumbuhan penduduk sebagai patokan dalam usaha mencapai tujuan tersebut telah ditetapkan suatu target demografis berupa penurunan angka fertilitas dari 44 permil pada tahun 1971 menjadi 20 per mil pada tahun 1990

 

  1. Tujuan Normatif

Tujuan normatif yaitu dapat dihayati Norma keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) yang pada waktunya akan menjadi falsafah hidup masyarakat Indonesia.

                                      ( Rustam Mochtar, 1998 : 249)

2.1.3        Sasaran KB

  1. Sasaran Langsung

Sasaran langsung yaitu para pasangan usia subur (PUS) agar mereka menjadi peserta Keluarga Berencana Lestari sehingga memberikan efek langsung pada penurunan fertilitas.

 

  1. Sasaran Tidak Langsung

Sasaran tidak langsung yaitu organisasi – organisasi dan lembaga – lembaga kemasyarakatan. Instansi pemerintahan maupun swasta, tokoh – tokoh masyarakat (wanita dan pemuda) yang diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap proses pembentukan sistem nilai di kalangan masyarakat yang dapat mendukung usaha pelembagaan norma Keluarga Kecil Yang Bahagia dan Sejahtera.                               

                          ( Rustam Mochtar, 1998 : 249 – 250 )

 

 

 

 

 

 

 

 

2.2       Konsep Dasar Kontrasepsi Hormonal dan Non Hormonal

2.2.1    Definisi Kontrasepsi

Kontrasepsi atau anti kontrasepsi ( Conception Control ) adalah cara untuk mencegah terjadinya konsepsi, alat, obat – obatan.

                                                     ( Rustam Mochtar, 1998 : 225 )

Kontrasepsi adalah upaya mencegah kehamilan yang bersifat sementara ataupun menetap. Kontrasepsi dapat dilakukan tanpa menggunakan alat, secara mekanis, menggunakan obat / alat atau dengan operasi.

                                                     ( Arif Mansjoer, 1999 : 348 )

Kontrasepsi ialah usaha – usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan. Usaha – usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanen. Yang bersifat permanen dinamakan pada wanita tubektomi dan pria vasektomi.

                                                     ( Hanifa Wiknjosastro, 2005 : 534 )

 

2.2.2    Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Kontrasepsi

1)        Faktor Pasangan ( Faktor Motivasi dan Rehabilitas )

Yaitu :

  1. Umur
  2. Gaya hidup
  3. Frekuensi senggama
  4. Jumlah keluarga yang diinginkan
  5. Pengalaman dengan kontrasepsi yang lalu
  6. Sikap kewanitaan
  7. Sikap Kepribadian

2)      Faktor Kesehatan (Kontra Indikasi Absolut dan Relatif)

Yaitu :

  1. Status kesehatan
  2. Riwayat haid
  3. Riwayat keluarga
  4. Pemeriksaan fisik
  5. Pemeriksaan panggul

2.2.4    Syarat – Syarat Metode Kontrasepsi Yang Baik

Syarat – syarat yang harus dipenuhi oleh suatu metode kontrasepsi yang baik adalah :

  1. Aman dan tidak berbahaya
  2. Dapat diandalkan
  3. Sederhana
  4. Murah
  5. Dapat diterima orang banyak
  6. Pemakaian jangka panjang

( Hanafi Hartanto, 2004 : 56 )

2.2.5    Kontrasepsi Hormonal

Merupakan kontrasepsi yang memakai obat – obatan yang mengandung 2 hormon yaitu estrogen dan progesteron / progestin, dimana estrogen sebagai kontrasepsi bekerja dengan janin menghambat ovulasi melalui fungsi hipotalomus, hipofisis, ovarium, menghambat perjalanan ovum atau implantasi. Sedangkan progesteron bekerja dengan cara membuat lendir serviks lebih kental, hingga penetrasi dan transportasi sperma menjadi sulit, menghambat kapasitas sperma, perjalanan ovum dalam tuba, implantasi, dan menghambat ovulasi melalui fungsi hipotalamus, hipofisis, ovarium.

                                             ( Rustam Mochtar, 1998 : 360 )

  1. Macam – Macam Kontrasepsi Hormonal
  • Pil Kombinasi dan Minipil

Pil dibagi dalam 2 jenis, minipil yang mengandung progesteron, minipil biasanya digunakan ibu – ibu menyusui karena progestin tidak menganggu produksi ASI, sedangkan estrogen dalam pil dapat menghambat produksi ASI.

  • Suntik

KB suntik dibagi 2 :

  • KB suntik 1 bulan yang mengandung progesteron dan progestin yang pada dasarnya akan menekan ovulasi membentuk lendir. Servik menjadi mengental sehingga penetrasi sperma terganggu sangat efektif (0,1 – 0,4 kehamilan per 100 perempuan).
  • KB suntik 3 bulanan

 

  • Implan

Adalah alat kontrasepsi yang dipasang dilengan yang tidak / jarang bekerja, sangat efektif 5 tahun untuk norplant, 3 tahun untuk jadena, indoplant atau implanon. Nyaman digunakan, dapat digunakan pada wanita usia reproduksi. Kesuburan dapta kembali setelah implant dicabut. Efek samping utama merupakan pendarahan tidak teratur, perdarahan bercak dan anamnesa dan pada dasarnya aman dipakai pada masa laktasi.

 

2.2.6    Kontrasepsi Non Hormonal

  1. AKDR

Merupakan kontrasepsi jangka panjang yang tidak mengandung hormon, dapat bertahan sampai 10 tahun, pemakaian AKDR dimasukkan kedalam rahim, melalui tindakan yang dilakukan di meja pemeriksaan

 

  1. Senggama Terputus

Merupakan kontrasepsi yang efektif bila dilakukan secara benar. Kontrasepsi ini sangat alamiah dengan cara menarik penis dari vagina sebelum terjadi ejakulasi dengan demikian semen (air mani) sengaja dikeluarkan diluar liang senggama untk mencegah terjadinya kehamilan. Namun metode ini sangat membutuhkan kerja sama yang baik, antara pasangan suami, istri

 

  1. Pantang Berkala

Merupakan kontrasepsi yang digunakan menggunakan metode kalender, dengan perhitungan yang sudah ditentukan menggunakan rumus dan merupakan berpantangan tidak bolah melakukan hubungan seksual beberapa hari sebelum serta ditambah beberapa hari sesudah ovulasi :

–        Awal masa subur, tanggal haid pertama ditambah 12

–        Puncak masa subur ditambah 14

–        Akhir masa subur ditambah 19

 

  1. MAL (Metode Amenorea Laktasi)

Merupakan metode kontrasepsi yang digunakan setelah melahirkan ibu – ibu yang menyusui secara ekslusif, sampai usia anak 6 bulan, apabila sebelum 6 bulan ibu sudah mendapat haid. Ibu harus menggunakan KB pembantu dalam penggunaan MAL, karena tingkat kesuburan dilandasi dengan keluarnya darah haid.

 

  1. Kondom

Kondom merupakan selubung karet yang dapat terbuat dari berbahai bahan diantaranya lateks (karet), plastik (vinil) atau bahan alami (reproduksi hewani) yang dipasang pada penis saat berhubungan seksual.

(Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Hal. 14)

 

Kondom juga merupakan karet sintensis yang tipis, berbentuk silinder dengan muaranya berpinggir tebal, yang bila digulung berbentuk rata atau mempunyai bentuk seperti putting susu.

(Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Hal. 14)

  • Profil
    • Kondom tidak hanya mencegah kehamilan, tetapi juga mencegah IMS termasuk HIV / AIDS
    • Efektif bila dipakai dengan baik dan benar
    • Dapat dipakai bersama kontrasepsi lain untuk mencegah IMS
    • Standar kondom dilihat dari kekebalan. Pada umumnya standar kekebalan adalah 0,02 mm
    • Tipe kondom terdiri dari :

–        Kondom biasa

–        Kondom berkontur (bergerigi)

–        Kondom beraroma

–        Kondom tidak beraroma

  • Kondom wanita

Kondom untuk pria sudah sangat dikenal, namun kondom untuk wanita walaupun sudah ada, belum popular dengan alasan ketidaknyamanan (berisik).

  • Cara Kerja
    • Kondom menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara mengemas sperma diujung selubung karet yang dipasang pada penis sehingga sperma tersebut tidak tercurah ke dalam saluran reproduksi perempuan.
    • Mencegah penularan mikroorganisme ( IMS termasuk HBV dan HIV / AIDS) dari satu pasangan kepada pasangan yang lain (khusus kondom yang terbuat dari lateks dan vinil).
    • Efektifitas

Kondom cukup efektif bila dipakai secara benar pada setiap kali berhubungan seksual. Pada beberapa pasangan, pemakaian kondom tidak efektif karena tidak dipakai. Secara konsisten, secara alamiah didapatkan hanya sedikit angka kegagalan kondom yaitu 2 – 12 kehamilan per 100 perempuan per tahun.

 

  • Manfaat
    • Kontrasepsi

–        Efektif bila digunakan dengan benar

–        Tidak mengganggu produksi ASI

–        Tidak mengganggu kesehatan klien

–        Tidak mempunyai pengaruh sistemik

–        Mudah dan dapat dibeli secara umum

–        Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus

–        Metode kontrasepsi sementara bila metode kontrasepsi lainnya harus ditunda

 

  • Non Kontrasepsi

–        Memberi dorongan kepada suami untuk ikut ber KB

–        Dapat mencegah penularan virus

–        Mencegah ejakulasi dini

–        Membantu mencegah terjadinya kanker serviks

–        Saling berinteraksi sesame pasangan

–        Mencegah imuno infertilitas

 

  • Keterbatasan

–        Efektivitas tidak terlalu tinggi

–        Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi

–        Agak mengganggu hubungan seksual (mengurangi sentuhan langsung)

–        Pada beberapa klien bisa menyebabkan kesulitan untuk mempertahankan ereksi

–        Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual

–        Beberapa klien mau membeli kondom di tempat umum

–        Pembuangan kondom bekas, menimbulkan masalah dalam hal limbah

  • Penilaian Pasien

Klien tidak perlu keterangan khusus. Pemeriksaan yang menyeluruh, hanya saja klien perlu penjelasan yang baik lisan ataupun instruksi tertulis. Kondisi yang perlu dipertimbangkan untuk seleksi penggunaan kondom dapat dilihat pada table berikut ini :

Sesuai untuk pria yang :

Tidak sesuai untuk pria yang :

  • Ingin berpartisipasi dalam program KB

 

 

 

  • Ingin segera mendapatkan alat kontrasepsi

 

 

  • Ingin kontrasepsi sementara

 

 

  • Hanya ingin menggunakan alat kontrasepsi jika akan berhubungan

 

 

  • Beresiko tinggi tertular / penularan IMS / HIV / AID.
  • Mempunyai pasangan yang beresiko tinggi apabila terjadi kehamilan

 

  • Alergi terhadap bahan dasar kondom

 

 

  • Menginginkan kontrasepsi jangka panjang

 

  • Tidak mau terganggu dengan sebagai pemapan untuk melakukan hubungan seksual

 

  • Tidak peduli berbagai persyaratan kontrasepsi
    • Cara Penggunaan / Instruksi Bagi Klien
      • Gunakan kondom setiap akan melakukan hubungan seksual
      • Agar efek kontrasepsinya lebih baik, tambahkan spermasida ke dalam kondom
      • Jangan menggunakan gigi, benda tajam seperti pisau, silet, gunting atau benda tajam lainnya pada saat membuka kemasan.
      • Pasangkan kondom saat penis sedangekrsei, tempelkan ujungnya pada glans penis dan tempatkan bagian penumpangnya pada sperma pada ujung uretra. Lepaskan gulungan karetnya dengan berjalan menggeser gulungan tersebut kearah pangkas penis. Pemasang ini dilakukan sebelum penetrasi penis ke vagina
      • Bila kondom tidak mempunyai tempat penampungan sperma pada bagian ujungnya. Maka saat memakai, longgarkanlah sedikit bagian ujungnya agar tidak terjadi robekan pada saat ejakulasi
      • Kondom dilepas sebelum penis melembek
      • Pegang bagian pangkal kondom sebelum mencabut penis sehingga kondom tidak terlepas pada saat penis dicabut dan lepaskan kondom diluar vagina agar tidak terjadi tumpahan cairan sperma di sekitar vagina
      • Gunakan kondom hanya satu kali pakai
      • Buang kondom bekas pakai pada tempat yang aman
      • Sediakan kondom dalam jumlah cukup dirumah dan jangan menyimpan kondom di tempat yang panas, Karena akan menyebabkan kondom rusak / sobek.
      • Jangan gunakan kondom bila kemasannya sobek atau rapuh / rusuh
      • Jangan gunakan minyak goreng, minyak memeralatakan pelumas dari lahan petrotum karena akan merusak kondom.

 

2.2.7          Kontrasepsi Mantap

–        Vasektomi yang merupakan perbedahan / operasi kecil yang dilakukan pada saluran sperma laki – laki, saluran sperma dapat di potong / di beri cincin bahkan di ikat. Itupun setelah operasi kecil tersebut, laki – laki harus 20x ejakulasi (pengeluaran sperma) untuk mencegah masih tertinggalnya sperma pada saluran sperma untuk mengantisipasi terjadinya kehamilan.

 

–        Tubektomi

Adalah pembedahan yang dilakukan pada saluran tuba palopi / operasi kecil yang dilakukan pada wanita dengan cara member cincin atau mengikat saluran tersebut.

 

–        Histerektomi

Merupakan tindakan bedah yang dilakukan dengan cara khusus, misalnya jumlah anak sudah terlalu banyak, atau bahkan ada masalah dengan kandungan lemah, atau memang keinginan sendiri ingin memutuskan tidak memiliki anak lagi. Merupakan beberapa alasan mengapa ada wanita ingin menggunakan metode kontrasepsi ini.

2.2     Konsep Dasar Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Akseptor Baru KB Kondom

  1. I.          Pengkajian
    1. Data Subjektif
      1. Biodata

Identitas pasien        :

Umur                        :

Agama                      : 

Suku / Bangsa          :

Pendidikan               : 

Pekerjaan                  :

Penghasilan              :

Alamat                     :

                                                         ( FK UNPAD, 1983 )

  1. Alasan datang

Ibu mengatakan suaminya ingin menggunakan KB kondom

                                                         ( Hartanto Hanafi, 2004 )

  1. Keluhan Utama

–        Ibu mengatakan suaminya ingin ikut serta dalam penggunaan KB

–        Ibu ingin memberi jarak pada kehamilannya

( Hartanto, Hanafi, 2004 )

  1. Riwayat Kesehatan Yang Lalu

Ibu mengatakan tidak ada penyakit menular, menahun, menurun

( FK UNPAD, 1983 )

  1. Riwayat Kesehatan Sekarang

Sekarang sedang atau tidak ada sakit menular, menahun, menurun, parah / sampai di rawat.

                                             ( UNPAD, 1983 )

  1. Riwayat Kesehatan Keluarga

Sekarang keluarga ada / tidak menderita penyakit menurun, menahun, menurun.

( Ambarwati, Retna Eny, S.SiT, 2009 )

  1. Riwayat Haid

Amenorea, menarche, siklus haid, disminorche, HPHT, HPL.

                                             ( Mochtar, Rustam, 1998 )

  1. Riwayat Perkawinan

Berapak kali menikah, lama mnikah, umur pertama menikah.

                                             ( Ida Bagus Gede Nusantara, 1998 )

  1. Riwayat Kehamilan

Berapa kali hamil, keluhan selama hamil, nifas, kes, ditolong, dimana, berapa jumlah anak.

                                 ( Ambarwati, Retna Eny, S.SiT, 2009 )

  1. Riwayat KB

Untuk mengetahui KB apa yang digunakan, berapa kali ada keluhan.

                                 ( Ambarwati, Retno Eny, S.Sit, 2009 )

  1. Pola Kebiasaan Sehari – Hari

Untuk mengetahui pola nutrisi, kebiasaan istirahat, aktifitas.

                                             ( Depkes RI, 2001 )

  1. Pola Psikososial dan Spiritual

Untuk mengetahui apakah ibu mempunyai pantangan selama menggunakan KB.

                                 ( Ambarwati, Retna Eny, S.SiT, 2009 )

 

 

 

  1. Data Objektif
    1. Pemeriksaan Umum

KU               : 

Kesadaran    :

TD                :

H                  :

S                   :

R                  :

TB                :

BB                :

                                              ( FK. UNPAD, 1983 )

  1. Pemeriksaan Khusus
    1. Inspeksi

Rambut  :  Hitam / tidak, bersih / tidak, rontok / tidak

Muka      :  Pucat / tidak

Hidung   :  Bersih / tidak

Mulut     :  Kelembaban bibir ada / tidak, gigi bersih / tidak

Dada      :  Pernafasan normal / tidak

 

  1. Palpasi

Leher      :  Teraba / tidak pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis, nyeri tekak / tidak.

                                       ( Winkjosastro, Hanifa, 2002 )

  1. II.    Identifikasi Diagnosa Masalah

Dx    :  Asuhan Kebidanan Pada ………..

 

Ds     :  Keluhan ibu ……….

 

Do    :  Pemeriksaan tenaga kesehatan ………..

                                                                     ( Hartanto, Hanafi, 2004 )

  1. III.  Intervensi
  • Dx          :  Akseptor baru KB ………

Tujuan :

–        Jalin hubungan baik

–        Membantu memberikan informasi

–        Membantu berikan saran dan mengunakan KB  yang cocok

 

  • Kriteria Hasil

–        Mendapat hasil yang baik

–        TTV

 

  • Intervensi

–        Menjalin hubungan baik dengan pasien

R/ agar lebih mudah melakukan asuhan

–        Bantu berikan informasi

R/ agar ibu tahu, dan suami tentang alat kontrasepsi

–        Membantu memberi saran dan menemukan KB yang cocok

R/ agar ibu tahu KB yang cocok dan mendapatkan KB yang sosok sesuai keinginannya.

                                             ( Saifuddin, Abdul Bari, 2006 )

  1. IV.  Implementasi

Mengacu pada intervensi yang ada

( Saifuddin, Abdul Bari, 2006 )

  1. V.    Evaluasi

Yang akan di interpretasikan pada SOAP, mengacu pada intervensi dan implementas

( Saifuddin, Abdul Bari, 2006 )

                                                          

                                                   

BAB 3

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA TN “S” USIA 27 TAHUN

AKSEPTOR KB KONDOM DI POLINDES ,SEBAMBAN O1

 

 

Tanggal Pengkajian     : O2– 08– 2012          

Jam Pengkajian           : 10.00 WITA

No. Register                :  –

 

  1. I.             PENGKAJIAN
    1. Data Subjektif
    2. Biodata

Nama               :  Ny. “R”                        Nama Suami         : Tn. “S”

Umur               :  24 Th                            Umur                    : 29 Tahun

Suku/Bangsa  :   Jawa / Indonesia          Suku/Bangsa:Jawa/Indonesia

Agama             :  Islam                            Agama                  : Islam

Pendidikan      :  SMA                            Pendidikan           : SMK

Pekerjaan         :  IRT                               Pekerjaan              : Swasta                                                      Alamat            : Blok E Sebamban 01,   Penghasilan          : Rp 2.000.000

  1. Keluhan Utama

–        Ibu mengatakan suaminya ingin menggunakan KB kondom.

  1. Riwayat Obstetri

Riwayat Haid

–        Lama haid          :  6 hari

–        Siklus                 :  28 hari

–        Jumlah                :  2 – 3x ganti pembalut

–        Menarche           :  10 tahun

–        Disminorhe         :  Tidak ada

–        Flaur albus          :  Kadang – Kadang

  1. Riwayat Kesehatan

Ibu mengatakan dia dan suaminya tidak pernah menderita penyakit menular, misalnya Hepatitis, TBC, PMS, tidak pernah menderita penyakit menurun, Hipertensi, Jantung, DM, Asma, menahun Hipertensi serta jantung, DM.

 

  1. Riwayat Kesehatan Keluarga

Ibu mengatakan keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular, misalnya hepatitis, TBC, PMS, tidak pernah menderita penyakit menurun, Hipertensi, DM, Asma, menahun seperti jantung, Hipertensi, Asma, DM

 

  1. Riwayat KB

Ibu mengatakan sebelumnya pernah memakai KB suntik + 6 bulan, namun berhenti karena ingin hamil dan sekarang ibu ingin menggunakan KB lagi namun KB untuk suami.

 

  1. Pola Kehidupan Sehari – hari
    1. Pola Nutrisi        :  Makan 3 kali sehari, porsi sedang, lauk sayur, nasi

dan kadang ditambah buah.

Minum air putih + 7 – 8 gelas per hari, kadang minum susu dan teh.

 

  1. Pola Eliminasi    :  BAK   :  Biasa, 3-4 kali sehari, warna kuning, bau               khas   urin.

BAB :  1-2x sehari, konsistensi lembek, bau khas

feses, ibu tidak mengalami kesulitan dalam BAB dan BAK.

 

  1. Pola Aktifitas     :  Setiap hari ibu melakukan pekerjaan sebagai ibu

rumah tangga dan ayah melakukan pekerjaan swastanya

 

  1. Pola Istirahat      :  Tidur malam   :  7 – 8 jam / hari

Tidur siang     :  1 – 2 jam / hari

 

  1. Pola Personal Hygiene   :  Ibu dan ayah mandi 2-3x sehari. Gosok gigi 2x sehari, ganti pakaian dalam 2-3x sehari. Kebersihan diri ibu, ayah dan keluarga baik

 

  1. Keadaan Psikososial

–        Ibu mengatakan hubungannya dengan suami dan keluarga serta masyarakat baik.

 

  1. Keadaan Spiritual

Ibu mengatakan ibadah yang dilakukannya dan suami sesuai dengan agama yang dianutnya. Tidak ada masalah apapun dalam penggunaan KB dengan agama yang dianut.

 

  1. Data Objektif
    1. Pemeriksaan umum

Keadaan Umum             : Baik

Kesadaran                      : Compos Mentis

TD                                  : 120/80 mmHg

N                                    : 88 x/m

S                                     : 370C

R                                    : 24 x/m

BB                                  : 60 kg

TB                                  : 168 cm

 

 

  1. Pemeriksaan Khusus
    1. Inspeksi

–     Kepala      :  Bersih, rambut hitam

–     Muka        :  Bentuk wajah bulat, tidak pucat dan oedema

–     Mata         :  Simetris, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak

                         ikterik

–     Telinga      :  Simetris, bersih tidak ada serumen

–     Hidung     :  Simetris kiri – kanan, tidak terdapat polip

–     Mulut        :  Bersih, mukosa mulut lembab

–     Leher        :  Tidak tampak pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis.

  1. Palpasi

–     Leher        :  Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena

    jugularis

–     Tungkai    :  Tidak terdapat odema

 

  1. Pemeriksaan Penunjang

Tidak dilakukan

 

  1. II.          INTERPRETASI DATA DASAR

Data Dasar

Diagnosa / Masalah

Ds  :

–        Ibu mengatakan suaminya ingin menggunakan KB

 

Do  :

Pemeriksaan Suami :

KU             :  Baik

Kesadaran  :  Composmentis

TD              :  120/80 mmHg

N                :  88 x/m

S                 :  370C

R                :  24 x/m

BB             :  60 kg

TB             :  168 cm

Dx : Asuhan Kebidanan Pada Tn.“S”

usia 27 tahun dengan KB Kondom

 

  1. III.       DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL

 

  1. IV.       KEBUTUHAN SEGERA

  1. V.          INTERVENSI

Dx / Masalah

Intervensi

Rasional

Dx :

Asuhan Kebidanan Pada Tn. “S” Usia 27 tahun Akseptor Baru KB Kondom

Tujuan :

–          Membantu ibu menunda kehamilannya

–          Membantu ibu dan suami untuk mendapatkan

 informasi mengenai KB

 kondom

 

Kriteria Hasil :

KU             : Baik

Kesadaran              : CM

TD               :110/70-130/90

                    mmHg

N                 : 60-100 x/m

RR               : 16-24x/m

S                  : 36,5-37,5ºC

 

Intervensi :       

–        Jalin hubungan baik dengan pasien

 

 

 

 

–        Tanyakan tujuan kunjungan kepada pasien

 

–        Jelaskan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan

 

–        Berikan KIE  mengenai efek samping, keuntungan, dan kerugian kondom

 

–        Jelaskan cara penggunaan kondom yang benar

 

–        Berikan kondom sesuai kebutuhan klien dan jangan disimpan ditempat yang panas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Agar ibu dan suami merasa nyaman dengan asuhan yang kita berikan dan memudahkan tenaga kesehatan memberikan asuhan yang standar.

 

Agar tenaga kesehatan tahu apa yang diinginkannya

 

–        Klien mengetahui keadaan / kondisi kesehatannya saat ini

 

–         Diharapkan ibu dan suami mengerti tentang efek samping, keuntungan, dan kerugian  KB Kondom

–        Klien mengerti cara penggunaan KB kondom yang benar

–        Sebagai persediaan dirumah dan kondom tidak layak pakai

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. VI.       IMPLEMENTASI

Tanggal / jam

Dagnosa / masalah

Implementasi

02-08- 2012

10.30 wita

Dx :

Asuhan Kebidanan Pada Tn. “S” usia 27 tahun, Akseptor Baru KB Kondom

–          Menjalin hubungan baik dengan klien saat memberikan asuhan, misalnya memperkenalkan diri, dengan ramah , menyapa dengan sopan , dan mendengarkan alasan klien datang, serta menjawab sesuai pertanyaan atau keluhan klien dengan senyum ramah

–          Menanyakan tujuan kunjungan kepada klien, agar mengetahui apa yang diinginkan klien

–          Menjelaskan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan seperti :

KU                  : Baik 

Kesadaran       : CM

TD                   : 120/80 x/m

N                     : 88 x/m

RR                   : 37,5 ºc

BB                   : 60 kg

TB                   : 168 kg

Ibu dalam keadaan baik / normal

–          Memberikan KIE tentang keadaan mengenai keuntungan, kerugian, dan efek samping KB kondom

  • Keuntungan : efektif bila digunakan dengan benar, tidak mengganggu ASI, tidak menggaggu kesehatan klien, tidak mempunyai pengaruh sistemik, murah dapat dibeli secara umum, tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus, mencegah penularan IMS, mencegah ejakulasi dini, saling berinteraksi atau bekerja sama sesama pasangan
  • Kerugian : cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi , agak mengganggu hubungan seksual ( karena mengurangi sentuhan langsung ), harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual, beberapa klien malu untuk membeli kondom di tempat umum.
  • Efek samping / maslah yang bisa terjadi kondom rusak atau diperkiraan bocor sebelum berhubungan, kondom bocor atau dicurigai ada curahan divagina saat berhubungan, dicurigai adanya reaksi alergi, mengurangi kenikmatan hubungan seksual

–          Menjelaskan cara penggunaan kondom yang benar

  • Gunakan kondom setiap akan melakukan  hubungan seksual
  • Agar efek kontrasepsinya lebih baik, tambahkan spersimida kedalam kondom
  • Jangan menggunakan gigi, benda tajam seperti pisau,silet, gunting, atau benda tajam lainnya , pada saat membuka
  • Pasangan kondom saat penis sedang ereksi ,tempelkan ujungnya pda glands penis dan tempatkan bagian penampung sperma, pada ujung ureter, lepaskan gulungan karetnya dengan jalan menggeser gulungan tersebut kearah pangkal penis “ pemasangan ini harus dilakukan sebelum penetrasi penis ke vagina ”
  • Bila kondom tidak mempunyai tempat penampungan sperma pada bagian ujungnya, maka saat memakai, longgarkan sedikit bagian ujungnya, agar tidak terjadi robekan saat ejakulasi
  • Kondom dilepas sebelum penis melembek
  • Pegang bagian pangkal kondom sebelum mencabut penis sehingga kondom tidak terlepas pada saat penis dicabut dan dilepaskan kondom diluar vagina agar tidak terjadi tumpahan cairan sperma disekitar vagina.
  • Gunakan kondom hanya satu kali pakai
  • Buang kondom bekas pakai pada tempat yang aman

–          Memberikan kondom sesuai kebutuhan klien dan jaringan disimpan ditempat yang panas karena dapat menyebabkan kondom menjadi rusak atau robek saat digunakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. VII.    EVALUASI

Tanggal / Jam

Dx / Masalah

Evaluasi

02– 08 – 2012

Jam 10.45 WITA

Dx :

Asuhan Kebidanan Pada Tn. “S” usia 27 tahun, Akseptor Baru KB Kondom

S :  klien ( ibu dan suami ) mengerti    dengan penjelasan yang telah diberikan

 

O  :  klien tanpak mengerti, senang dan

        mampu mengulangi penjelasan

        yang diberikan

KU                     :  Baik

Kesadaran          :  Composmentis

TD                      :  120/80 mmHg

N                        :  88 x/m

S                         :  37,0 C

R                        :  24 x/m

BB                     :  60 kg

TB                      :  168 cm

 

A  :  Asuhan Kebidanan pada Tn ”S”

usia 27 tahun Akseptor Baru KB Kondom

 

P : 

–        Menganjurkan pada ibu dan suami datang apabila ada keluhan.

–        Menganjurkan ibu dan suami datang apabila ingin membeli kondom.

 

 

 

 

 

BAB 4

PEMBAHASAN

 

Pembahasan yang saya buat ini, untuk lebih memudahkan pembaca memahami asuhan yang saya buat. Saya mengelompokkan sesuai dengan langkah – langkah manajemen kebidanan yang meliputi : pengkajian data ( data subjektif dan data objektif), interpretasi data dasar (diagnosa dan data dasar), diagnosa (masalah potensial), idetifikasi kebutuhan segera, intervensi, implementasi dan evaluasi.

 

  1. Pengkajian

Pada pengkajian terdapat pengkajian data secara subjektif dan objektif dari kedua pengkajian tersebut tidak terdapat kesenjangan dikarenakan klien sangat membantu dan mau diajak komunikasi, mampu menjawab semua pertanyaan sehingga pada pengumpulan data secara subyektif yang didapat drai keterangan pasien, terasa lebih mudah dan pada pengkajian data secara objektif yang dilakukan melalui pemeriksaan oleh tenaga kesehatan juga tidak terdapat kesenjangan karena pasien sangat membantu dalam proses pemeriksaan.

 

  1. Interpretasi Data Dasar

Pada interpretasi data dasar dari diagnosa dan data dasar yang diperoleh tetap melalui diagnosa dan data dasar yang diperoleh tetap melalui Ds dan Do “Asuhan Kebidanan pada Tn. “S” usia 27 tahun Akseptor Baru KB Kondom. Tidak terdapat kesenjangan apapun. Karena pemeriksaan yang dilakukan untuk menentukan tindakan selanjutnya.

 

  1. Diagnosa ( Masalah Potensial )

Tidak terdapat masalah potensial yang timbul pada asuhan yang diberikan pada Tn. “S” usia 27 tahun Akseptor Baru KB Kondom.

 

  1. Identifikasi Kebutuhan Segera

Dikarenakan tidak terdapat masalah potensial pada langkah ke-3 pembuatan Asuhan Kebidanan pada TN.“S” jadi tidak diiperlukan kebutuhan segera.

 

 

  1. Intervensi

Merencanakan tindakan selanjutnya untuk memberikan pelayanan kepada pasien sesuai standar asuhan Keluarga Berencana, tidak mengalami kesenjangan dikarenakan perencanaan dapat dibuat dengan mudah sesuai Asuhan Keluarga Berencana.

 

  1. Implementasi

Pada pemeriksaan intervensi yang telah dibuat menurut standar Asuhan Kebidanan pada keluarga berencana, tidak terdapat kesenjangan dikarenakan semua intervensi yang dibuat dapat dilakukan pada pasien tanpa kesulitan.

 

  1. Evaluasi

Setelah mendapatkan penjelasan dari bidan ibu mengerti dan merasa puas dengan saran yang diberikan oleh bidan dan pelayanan yang diberikan, menganjurkan suami dan ibu untuk datang apabila ada keluhan yang terjadi dalam penggunaan KB Kondom.

 

Jadi dari jawaban teori dan kasus yang telah dibuat dan dilakukan pembahasan dengan cara menggunakan 7 langkah Varney yang telah ditentukan, didapatkan bahwa tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan kasus dan tinjauan teori yang telah dibuat dalam tinjauan teori. Peran suami untuk menggunakan dan berpartisipasi dalam penggunaan KB dijelaskan pada pengertian Keluarga Berencana. Dan pada kasus yang telah dibuat. Pada TN “S” usia 27 tahun, yang merupakan Akseptor Baru KB Kondom, Tn. “S” sebagai suami tidak ada masalah dan mau ikut serta dalam penggunaan kontrasepsi kondom.

BAB 5

PENUTUP

 

1.1    Kesimpulan

Kondom merupakan alat kontrasepsi yang sangat efektif (bagus) apabila digunakan secara benar. Kondom juga merupakan bahan yang terbuat dari karet yang hanya digunakan 1 kali pakai. Dapat mencegah penyakit IMS (Infeksi Menular Seksual) / HIV / bahkan AIDS. Namun kadang masih saja ada pasangan pasutri tidak tahu akan adanya alat kontrasepsi ini.

Pada dasarnya semua alat kontrasepsi, bila digunaka dan metode yang digunakan benar sesuai anjuran akan menjadi alat kontrasepsi yang bisa menghambat terjadinya kehamilan, menurunkan angka kelahiran, pada semua wanita dan dapat memberi peranan bahwa tidak hanya wanita yang dapat menggunakan KB, pria pun dapat membantu menurunkan angka kelahiran, mellaui ikut serta dalam penggunaan KB.

Bila dilihat dan dirincikan lebih luas. Dari teori dan kasus serta pembahasan yang telah dibuat dapat dikatakan, banyak faktor yang mempengaruhi peran suami mengenai alat kontrasepsi. Kesibukan pria sebagai kepala rumah tangga, ketidak  perhatian suami dengan pembentukan Keluarga Berencana menjadi faktor yang bersifat luar, yang tidak mudah diselesaikan.

Oleh karena itu diperlukan peran serta suami, istri sebagai pasangan pasutri serta tenaga kesehatan untuk sama – sama berperan aktif membantu terbentuknya Keluarga Berencana menurut NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera).

 

1.2    Saran

1.2.1        Bagi Tenaga Kesehatan

Tenaga kesehatan diharapkan dapat memberikan informasi lebih luas lagi mengenai macam – macam alat kontrasepsi, manfaat serta efek samping alat kontrasepsi kepada wanita – wanit pada usia reproduksi.

 

1.2.2        Bagi Mahasiswa

Diharapkan mahasiswa dapat memahami dan mengerti serta mampu menyampaikan kepada masyarakat mengenai alat kontrasepsi.

 

1.2.3        Bagi Pembaca

Diharapkan para pembaca dapat tahu dan paham mengenai apa itu alat kontrasepsi.

 

1.2.4        Bagi Institusi

Diharapkan institusi dapat menambah koleksi buku bacaan untuk menambah referensi buku untuk sumber kami.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s